Harapan Pemanfaatan TI Seorang Pendidik

BAB I
PENDAHULUAN
A. PERMASALAHAN
Menurunnya prestasi belajar siswa sudah menjadi trend di awal abad ke dua puluh satu ini, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain; bahkan di negara maju sekalipun. Kenapa hal ini bisa terjadi? Sementara perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berkembang dengan pesat, tetapi mutu pendidikan secara umum cenderung menurun? Ada apakah dengan keanehan tersebut?
Proses pendidikan/pengajaran adalah sesuatu yang rumit, banyak hal terkait bagi proses keberhasilannya. Satu atau dua hal proses penunjangnya tidak berjalan dengan sempurna, maka kualitas pembelajaran pun tidak akan maksimal. Untuk mencari tahu apa penyebab keganjilan di atas, ada baiknya terlebih dahulu kita amati bagaimana proses pendidikan itu berlangsung.
Secara umum ternyata unsur penunjang keberhasilan suatu proses pendidikan itu tergantung pada tiga bagian pokok, yakni: row input, instrumental input, dan environment input. Yang pertama jika row input (siswa) rendah (secara kualitas), maka jangan harap output-nya juga bagus kualitasnya; kedua jika Instrumental inputnya tidak maksimal, jangan harap juga proses belajar mengajar akan berjalan sempurna seperti yang diharapkan; dan ketiga jika lingkungan sekitar tempat dimana berlangsungnya PBM tidak mendukung , maka jangan harap hasil pendidikan yang maksimal.
Diluar ketiga komponen tresebut di atas masih ada pula unsur penentu bagi keberhasilan proses belajar-mengajar (PBM), yakni “manajemen”. Tanpa kemampuan “me-menej” yang baik dari Kepala Sekolah dalam hal pemberdayaan unsur-unsur yang ada ( dalam hal ini man, material dan money ), maka apalah artinya kualitas row input yang bagus, Instrumental input yang maksimal, dan dukungan Environmental input yang sempurna?
Dengan demikian banyak hal yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa (output PBM), untuk mengetahui apa penyebab dari turunnya prestasi belajar siswa (Output pendidikan), pertama kita harus tahu “bagaimana kualitas row input-nya”, Apakah row input-nya berasal dari lingkungan yang sehat? Apakah lingkungan tempatnya beasal tidak mendapat ekses negatif dari kemajuan Iptek? Atau yang lebih ekstrim lagi, apakah benar mereka berasal dari lingkungan yang ingin belajar, sehingga mereka memang datang ke sekolah untuk belajar dan mendapat dukungan sepenuhnya dari orang tua/walinya? Atau jangan-jangan mereka ke sekolah dengan tidak memiliki tujuan?. Dengan kata lain banyak hal yang berpengaruh terhadap kualitas dari row input (siswa). Kedua, kita harus mempelajari “cocok tidaknya Instrumental Input-nya”. Apakah cocok karakteristik kurikulum yang harus ditempuh dengan kebutuhan mereka? dan kita harus tahu “sejauh mana daya dukung Environmental Inputnya”, dan yang terpenting “sampai dimana efektivitas dan efesiensi manajemen pengelolaan Proses Belajar-Mengajarnya”.
B. ANOMALI PADA SUMBER PEMBELAJARAN
Dari uraian di atas jelaslah bahwa salah satu penentu kualitas PBM adalah adanya Instrumental Input yang sinkron dan up to date dengan kondisi lingkungan dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dimana dalam poin ini keberadaan materi/sumber belajar yang variatif dan selaras dengan “entri behaviours” sangat diperlukan bagi terciptanya Proses Belajar Mengajar yang lebih berkualitas.
Namun kenyataan di lapangan berbicara lain, banyak para guru yang masih menyepelekan pentingnya “sumber belajar” yang variatif sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Padahal di era Informasi ynag mengglobal ini kita bisa mencari dengan mudah berbagai sumber materi alternatif sebagai bahan proses pembelajaran melalui internet. Kebanyakan para guru cenderung hanya berpedoman pada teks book/buku pegangan saja, sehingga hal itu membuat bosan para siswa, bahkan kepada para guru sendiri. Mereka terjebak dalam rutinitas membaca dan merangkum saja dengan tidak memperhatikan apakah materi yang terdapat dalam buku itu gaya penyampaiannya sesuai dengan “entri behaviours” siswa, atau isinya sesuai dengan tujuan kurikulum yang diharapkan, bahkan apakah isinya “up to date atau tidak”.
Apalagi dalam mata pelajaran IPS, di mana inti dari mata pelajaran ini adalah suatu ilmu yang mempelajari interaksi sosial antara manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya, sehingga merupakan hal yang wajar bahkan “suatu keharusan” jika mata pelajaran ini harus mengambil materinya dari berbagai sumber, agar validitas materi yang disampaikan kepada siswa lebih tinggi.
B. MENURUNNYA MINAT BELAJAR IPS (SEBAGAI SUATU KRISIS)
Dalam uraian di atas sudah dijelaskan bahwa sumber materi yang tidak variatif menyebabkan siswa maupun guru akan merasa jenuh, dari waktu-ke-waktu proses belajar mengajar akan bergerak dengan monoton, lalu apa akibatnya dengan keadaan seperti itu?
Tentu saja akibat dari rasa jenuh, bosan dan tidak berkesan yang timbul akibat pola belajar, metode mengajar, dan sumber belajar yang monoton tersebut akan berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa, bahkan terhadap kualitas proses belajar-mengajar. Peluang untuk munculnya siswa yang kreatif akan lebih besar dari guru yang kreatif pula (Dr. Dedi Supriadi: 1996). Dengan demikian kecil kemungkinan hasil dari proses belajar-mengajar akan maksimal jika tidak terciptanya kreativitas dalam pembelajaran, metode mengajar dan teruama sumber belajarnya.
Banyak penyebab bagi sulitnya untuk menciptakan proses pembelajaran yang kreatif, salah satunya adalah “sumber belajar yang kreatif dan variatif”. Sumber belajar yang monoton yang tidak kreatif dan variatif seperti yang terjadi dalam PBM selama ini akan mendorong siswa menjadi jenuh, malas, bosan dan tidak merasa tetantang untuk menguasai sejumlah materi yang diberikan yang harus dikuasainya. Akibatnya tentu saja akan mengimbas secara langsung pada prestasi belajar siswa tersebut.
Demikian pula pada pembelajaran IPS, jika guru dan siswa kurang kreatif dan inovatif dalam mencari sumber-sumber belajarnya, maka sudah jelaslah akan terjadi penurunan prestasi belajar siswa. Sementara akibat menurunnya prestasi belajar siswa, jelas akan berdampak langsung pada menurunnya minat siswa terhadap pelajaran IPS. Mungkin inilah yang akan jadi kenyataan jika kita tidak kreatif dan variatif dalam menggali sumber-sumber belajar dan pembelajaran.
BAB II
UPAYA MENEMUKAN PARADIGMA BARU
A. MEMPERKAYA SUMBER BELAJAR IPS (SEBAGAI
KESEPAKATAN)
Di dalam belajar, siswa hendaknya dibiasakan untuk menjelajahi berbagai sumber atau buku untuk lebih memperluas dan memperdalam pengetahuan mereka (M. Ngalim Purwanto (1998: h.118). Di samping itu mereka akan terlatih untuk memilih dan menentukan sendiri mana dari sekian banyak pendapat atau pandangan yang menurut mereka lebih baik, lebih lengkap atau lebih sesuai dengan kebutuhan.
Untuk itu, kemampuan untuk mendapatkan sumber belajar yang kreatif, inovatif dan up to date mutlak diperlukan jika kita ingin meningkatkan Kualitas PBM. Dengan banyaknya sumber belajar, maka tuntutan kemampuan untuk memilih sumber belajar siswa akan terpenuhi secara maksimal, hal ini berkibat pada tercapainya kepuasan baik itu bagi siswa maupun bagi guru dalam Proses Belajar-Mengajar yang dilakukannya.
Adapun untuk memperkaya sumber belajar dari mata pelajaran IPS itu dapat kita dapatkan melalui koran, majalah, televisi, jurnal, seminar, internet dan lain-lain. Dalam hal ini siswa, guru dan sekolah dihadapkan pada pilihan media apa yang akan dipakai yang cocok dengan materi yang akan diberikan, dan terutama dengan kondisi sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah.
Namun dari sekian banyak sumber informasi yang ada seperti disebutkan di atas, menurut pendapat kami melalui media internet-lah yang paling inovatif dan luas jika digunakan untuk menggali sumber-sumber belajar.
B. MEMPERKAYA SUMBER BELAJAR IPS MELALUI INTERNET
(SEBAGAI PARADIGMA BARU DALAM MEMPERKAYA SUMBER
BELAJAR IPS)
Di dalam setiap pembelajaran umumnya digunakan media pembelajaran atau sarana teknologi pembelajaran, Hal mi berdasar pandangan behaviourisme yaitu bahwa pembelajaran terjadi sebagai hasil pengajaran yang disampaikan guru melalui atau dengan bantuan media, Namun dalam pandangan konstruktivisme, media digunakan sebagai sesuatu yang memberikan kemungkinan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan. Dalam kerangka berpikir konstruktivisme tersebut belajar dipandang sebagai suatu aktifitas siswa, proses konstruktif ketika pembelajar (siswa) secara strategis mengelola sumber-sumber kognitif untuk menciptakan atau mengkonstruksi pengetahuan baru dengan mengekstrak informasi dan lingkungannya dan mengintegrasikannya dengan informasi yang telah menjadi pengetahuan yang tersimpan di benaknya. Internet dewasa ini telah menjadi “trend” bagi kemajuan teknologi, Seiring dengan perkembangan teknologi internet di dunia, masyarakat dunia mulai terkoneksi dengan Internet. Kebutuhan akan informasi yang cepat diperoleh menjadi mutlak, dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana cara kita mencari sumber belajar (bagi mata pelajaran IPS) yang lainnya selain dari buku pegangan atau buku pedoman siswa? Sebenarnya banyak sumber belajar (materi) dari mata pelajaran IPS yang dapat dicari selain dari teks book; misalnya dari televisi, koran, majalah, dll. Namun yang akan dibahas pada makalah ini hanyalah pembahasan ”Bagaimana cara mencari sumber belajar melalui internet?”.
Sebenarnya banyak sekali sumber-sumber belajar di Internet bagi pelajaran IPS, baik itu dari site-site yang berbahasa Non Indonesia, maupun dari site-site yang berbahasa Indonesia. Misalkan untuk sub pelajaran Geografi kita bisa menggunakan wikipedia, Microsoft Encarta, World Map, dll. Dari sana kita dapat mengambil misalkan materi sumber-sumber tambang, mempelajari adat istiadat suatu bangsa, kondisi geografis suatu bangsa, peta suatu negara, bahkan sejarah singkat suatu bangsa. Demikian pula untuk sub pelajaran Sejarah, kita dapat mencari sejarah-sejarah suatu bangsa, Biografi orang-orang terkenal dan lain sebagainya. Hal yang sama pun berlaku untuk sub mata pelajaran ekonomi.
BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. PENGARUH MEMPERKAYA SUMBER BELAJAR IPS MELALUI
INTERNET SEBAGAI SUATU SOCIAL CHANGE (KESIMPULAN)
Akibat langsung dari penggunaan sumber belajar yang lebih variatif (dalam hal ini mencari bahan ajar melalui internet) adalah terciptanya kembali Proses Belajar Mengajar IPS yang kreatif dan inovatif; bahkan jika kita mau, untuk siswa SMU dan sederajat dapat dikaitkan dengan pelajaran Bahasa Inggris misalnya (dengan menterjemahkan) jika kita mengambil informasi dari site yang menggunakan bahasa Inggris.
Dengan demikian wawasan siswa dan guru akan lebih mendunia, bahkan mungkin lebih up to date secara data dibandingkan dengan data di buku yang dicetak beberapa tahun ke belakang. Sumber belajar pun akan sangat variatif, baik itu secara bahasa, gaya penyampaian, bahkan sampai tingkat kedalaman materi. Dan itu merupakan suasana dan kondisi yang dibutuhkan oleh siswa dan guru untuk menciptakan PBM yang kreatif dan inovatif yang akan berakibat pada meningkatnya prestasi mata pelajaran IPS seperti yang diharapkan.
Kondisi yang kreatif dan inovatif seperti di atas, secara langsung maupun tidak langsung akan berakibat pada perubahan terhadap mindset suatu sekolah (dalam hal ini sekolah harus menyediakan sumber belajar lain berupa konektifitas internet), seorang guru dan siswa (lebih kreatif dan inofatif dalam mencari sumber belajar lain/melalui internet) dalam upaya memperkaya sumber belajarnya, untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut
Mindset berdasarkan Pola Paradigma lama dalam pembelajaran IPS
Mindset berdasarkan pola Paradigma baru dalam pembelajaran IPS
  1. GURU DAN SISWA BERSUMBER PADA BUKU PEGANGAN SAJA
  1. SUMBER BELAJAR TIDAK VARIATIF
  1. SUMBER BELAJAR GURU DAN SISWA TIDAK HANYA BUKU PEGANGAN, TAPI JUGA MELALUI INTERNET
  2. SUMBER BELAJAR LEBIH VARIATIF
B. REKOMENDASI
Hasil-hasil pembahasan seperti dikemukakan di atas menunjukkan cukup banyaknya kelebihan komputer sebagai media pembelajaran IPS untuk mencari alternatif sumber materi, demikian juga teori pembelajaran baik teori konstruktivisme maupun teori pembelajaran lainnya mendukung digunakannya komputer/internet (Krismanto, A.L. M.Sc. :2003). Dengan demikian maka dipandang layak dilakukan pembelajaran berbantuan komputer, di samping itu pembelajaran berbantuan komputer/internet dapat memberikan keuntungan- keuntungan antara lain:
1, Pembelajaran berbantuan komputer bila dirancang dengan baik, merupakan media pembelajaran yang sangat efektif, dapat memudahkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran, karena sumber/materi yang didapat dari internet sangat variatif.
2, Meningkatkan motivasi belajar siswa (Higgins dalam Poedjo Soedarmo, 1988),
3, Mendukung pembelajaran individual sesuai kemampuan siswa,
4, Melatih siswa untuk terampil memilih bagian-bagian isi pembelajaran yang dikehendaki,
5, Dapat digunakan sebagai penyampai balikan langsung (immediate feed back),
6, Materi dapat diulang-ulang sesuai keperluan, tanpa harus menimbulkan rasa jenuh siswa guru atau nara sumbernya.
Adapun kekurangan-kekurangan dari pengambilan sumber belajar melalui media internet antara lain:
1. Keterbatasan sarana dan prasarana sekolah, terutama sekolah-sekolah di daerah untuk mengakses jaringan internet dan terutama fasilitas media
komputernya,
2. Ketersenangan menggunakan komputer dapat menyebabkan ketergantungan yang berakibat kurang baik;
3. Jika tidak hati-hati, maka efek negatif dari perkembangan internet akan dirasakan, misalkan siswa jadi senang membuka site porno dan lain sebagainya.
C. PENUTUP
Demikianlah pembahasan seputar memperkaya sumber belajar IPS melalui internet, pada akhirnya ini semua berpulang kepada situasi dan kondisi. Dalam situasi seperti apa dan dalam kondisi yang bagaimana hal tersebut dapat dilaksanakan pada akhirnya bergantung kepada kemampuan tiap sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Krismanto, AL. M.Sc, . Pembuatan Model Pembelajaran Matematika. PPPG Matematika, Yogyakarta, 2003.
Purwanto, M. Ngalim, Drs. Psikologi Pendidikan. Bandung: 2003
Satria Wahono, Romi Spiralisasi Pengetahuan: Teknik Menghidupkan Pengetahuan Kita, IlmuKomputer.Com, 2003.

Komentar

Postingan populer dari blog ini